Sit amet felis. Mauris semper,

Welcome to WordPress. This is your first post. Edit or delete it, then start blogging!Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, ...

Category name clash

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. ...

Test with enclosures

Here's an mp3 file that was uploaded as an attachment: Juan Manuel Fangio by Yue And here's a link to an external mp3 file: Acclimate by General Fuzz Both are CC licensed. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. Quisque sed felis. Aliquam sit amet felis. Mauris semper, velit semper laoreet dictum, ...

Block quotes

Some block quote tests: Here's a one line quote. This part isn't quoted. Here's a much longer quote: Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit. In dapibus. In pretium pede. Donec molestie facilisis ante. Ut a turpis ut ipsum pellentesque tincidunt. Morbi blandit sapien in mauris. Nulla lectus lorem, varius aliquet, ...

Contributor post, approved

I'm just a lowly contributor. My posts must be approved by the editor.Mauris semper, velit semper laoreet dictum, quam diam dictum urna, nec placerat elit nisl in quam. Etiam augue pede, molestie eget, rhoncus at, convallis ut, eros. Aliquam pharetra. Nulla in tellus eget odio sagittis blandit. Maecenas at ...

Senin, 02 Juli 2012


SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA
“MEDIA KOMUNIKASI TRADISIONAL DI INDONESIA”
BAB I
PENDAHULUAN

            Komunikasi merupakan hal yang sangat penting bagi kelangsungan hidup manusia. Komunikasi diperlukan untuk menjalin hubungan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan hakikat manusia sebagai makhluk sosial, di mana manusia selalu memiliki hasrat untuk berhubungan dengan orang lain. Sifat manusia untuk selalu ingin tahu dan menyampaikan keinginannya merupakan wujud awal keterampilan manusia dalam berkomunikasi.
Keterampilan ini dimulai dengan komunikasi secara otomatis melalui lambang-lambang, kemudian disusul dengan kemampuan untuk mengartikan setiap lambang-lambang tersebut dalam bentuk bahasa verbal.
            Pada perkembangannya, komunikasi manusia terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan mereka di masa lalu. Mereka mendirikan tempat tinggal di daerah aliran sungai dan tepi pantai untuk memudahkan mereka dalam hal berkomunikasi dengan daerah luar menggunakan perahu, rakit, atau sampan. Berbagai bentuk kehidupan manusia di masa lalu sebenarnya merupakan salah satu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi tradisional yang merupakan akar dari berbagai bentuk komunikasi yang kita kenal seat ini. Pada masa itu, sebagian besar masyarakat berkomunikasi menggunakan cara tradisional dan melalui media yang belum canggih, komunikasi semacam itulah yang disebut sebagai komunikasi tradisional.
            Di berbagai daerah di Indonesia, media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk dan sifat, sejalan dengan variasi kebudayaan yang ada di daerah-daerah itu. Misalnya, tudung sipulung (duduk bersama), ma’bulo sibatang (kumpul bersama dalam sebuah pondok bambu) di Sulawesi Selatan dan selapanan (peringatan pada hari ke-35 kelahiran) di Jawa Tengah, boleh dikemukan sebagai beberapa contoh media tradisional di kedua daerah ini. Di samping itu, boleh juga ditunjukkan sebuah instrumen tradisional seperti kentongan yang masih banyak digunakan di Jawa. Instrumen ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan yang mengandung makna yang berbeda, seperti adanya kematian, kecelakaan, kebakaran, pencurian dan sebagainya, kepada seluruh warga masyarakat desa, jika ia dibunyikan dengan irama-irama tertentu.
            Namun sejalan dengan perkembangan zaman dan kemajuan teknologi, komunikasi tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat zaman modern. Oleh karena itu pemahaman mengenai komunikasi tradisional sangat diperlukan, khususnya bagi mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, mengingat komunikasi tradisional merupakan salah satu unsur penting dalam perkembangan komunikasi manusia. Komunikasi tradisional layak dilestarikan sebagai bagian penting dalam sejarah pekembangan komunikasi manusia. Keberadaannya dalam berbagai seni tradisional dan seni pertunjukan hendaknya dilestarikan, diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga tidak hilang terbawa arus modernisasi. Pembahasan mengenai komunikasi tradisional akan dibahas secara lebih rinci pada bab selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN

            Komunikasi tradisional adalah proses penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lain, dengan menggunakan media tradisional yang sudah lama digunakan di suatu tempat sebelum kebudayaannya tersentuh oleh teknologi modern.
Pada zaman dahulu, komunikasi tradisional dilakukan oleh masyarakat primitif dengan cara yang sederhana. Seiring dengan perkembangan teknologi, komunikasi tradisional mulai luntur dan jarang digunakan.
            Komunikasi merupakan bagian dari tradisi, peraturan, upacara keagamaan, hal-hal tabu, dan lain sebagainya, yang berlaku pada masyarakat tertentu. Komunikasi memiliki perbedaan antara kebudayaan yang satu dengan yang lain. Komunikasi tradisional dalam suatu kelompok masyarakat dapat mempererat persahabatan. Komunikasi tradisional mendorong manusia untuk bekerja, menjaga keharmonisan hidup, memberikan rasa keterikatan, bersama-sama menantang kekuatan alam dan dipakai dalam mengambil keputusan bersama. Dengan demikian, komunikasi tradisional merupakan salah satu bentuk komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
            Sifat-sifat umum media komunikasi tradisional antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada, menghibur, menggunakan bahasa lokal dan fleksibel. Media tradisional dikenal juga sebagai media rakyat atau kesenian rakyat. Dalam hal ini Coseteng dan Nemenzo mendefinisikan media tradisional sebagai bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka dengan maksud menghibur, memaklumkan, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
            Sejalan dengan definisi inilah, media rakyat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik instrumental rakyat, dan drama rakyat, yaitu segala jenis kesenian rakyat yang berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan yang kemudian diteruskan dari generasi ke generasi.

A. Bentuk-Bentuk Komunikasi Tradisional
a. Lambang Isyarat
                        Pada awalnya, orang menggunakan anggota badannya untuk berkomunikasi "bahasa badan" dan bahasa non-verbal. Contohnya dengan gerak muka, tangan, mimik. Ini merupakan bentuk komunikasi yang sangat sederhana.

b. Simbol
                        Simbol-simbol dalam komunikasi tradisional dapat dilihat pada pemukulan gong di Romawi dan pembakaran api yang mengepulkan asap di Ci na, yang dilakukan oleh para serdadu di medan perang.

c. Gerakan
               Gerakan-gerakan dalam semaphore yang dilakukan untuk menyampaikan sebuah pesan/informasi maupun gerakan-gerakan dalam tarian yang bertujuan menyampaikan suatu kisah, merupakan bentuk-bentuk komunikasi tradisional yang menggunakan gerakan.

d. Bunyi-bunyian
               Bentuk komunikasi tradisional dalam hal ini berupa tanda bahaya yang disampaikan dengan sirine atau kentongan.

B. Media Komunikasi Tradisional
a. Kentongan
               Kentongan sebagai media komunikasi tradisional masih memegang peranan yang cukup penting terutama di daerah-daerah. Walaupun di masa sekarang ini telah terjadi perkembangan teknologi yang cukup pesat, namun kentongan masih memiliki banyak kegunaan, misalnya di bidang keamanan (sebagai sarana ronda malam) dan bidang informasi (sebagai petunjuk waktu yang dipukul setiap jam dan sarana menginformasikan berbagai peristiwa yang terjadi, seperti kebakaran, bencana alam dan sebagainya).

b. Kulkul
               Kulkul merupakan alat komunikasi tradisional yang terdapat di Bali. Kulkul biasanya dipergunakan sebagai tanda panggilan kepada warga untuk berkumpul. Kulkul adalah alat bunyi yang pada umumnya terbuat dari kayu dan benda peninggalan para leluhur. Selain di Bali, kulkul yang lazimnya disebut dengan kentongan hampir terdapat di seluruh pelosok kepulauan Indonesia. Kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh masyarakat Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih populer dengan nama "Tongtong". Sedangkan pada zaman Jawa-Hindu kulkul disebut "Slit-drum" yaitu berupa tabuhan dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu.
               Para pembuat kulkul harus melakukan tahap-tahap upacara guna mencari kekuatan magis yang akan ditanamkan pada alat tersebut. Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat.

c. Bedug
               Bedug adalah alat tabuh seperti gendang yang digunakan sejak ribuan tahun lalu yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional dalam kegiatan ritualkeagamaan. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk pemberitahuan mengenai waktu shalat bagi umat Islam.

d. Burung Merpati
               Burung merpati merupakan media komunikasi tradisional setelah manusia mengenal tulisan serta kebudayaan berkirim surat, sebelum munculnya jasa pos. Surat yang ditulis tersebut akan dipasang pada kaki burung merpati yang telah dilatih sebelumnya oleh si pengirim, untuk disampaikan kepada orang yang dituju. Pengiriman surat dengan jasa burung merpati banyak ditemukan pada masa kerajaan di Indonesia.



e. Api dan asap
               Api juga digunakan dalam komunikasi tradisional untuk menyampaikan peringatan terhadap adanya bahaya, bencana alam, ataupun untuk mengumpulkan masyarakat pada suatu tempat yang telah ditentukan untuk keperluan tertentu.

f. Cerita Rakyat (Dongeng)
               Dongeng merupakan salah satu media tradisional yang pernah populer di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
               William R. Bascom (dalam Nurudin,2005:115) mengemukakan fungsi-fungsi dari folklore sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sistem proyeksi ( projective system )
2. Sebagai pengesahan atau penguat adat.
3. Sebagai alat pendidikan ( pedagogical device )
4. Sebagai alat paksaan dan pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota kolektifnya.

g. Seni Drama dan Tari
               Sendratari yang dikembangkan di Bali antara lain adalah Arja. Pertunjukan ini biasanya dimulai pada tengah malam oleh pelaku-pelaku yang memainkannya dengan jenaka. Cerita-cerita Arja yang pada dasarnya mengungkapkan tema romantis itu juga menyinggung permasalahan hangat sehari-hari, yang secara komunikatif dapat menggali kesadaran masyarakat mengenai berbagai hal.

                        Pertunjukan-pertunjukan semacam ini biasanya berakar dari kebudayaan masyarakat setempat dan bersifat komunikatif sehingga makna di dalamnya sangat mudah dipahami. Pertunjukan ini biasanya diiringi oleh musik daerah setempat.
h. Upacara Rakyat
               Upacara Rakyat seringkali digunakan untuk memperkuat adanya cerita rakyat. Salah satu contohnya upacara Labuhan (sesaji kepada makhluk halus) yang memperkuat cerita rakyat mengenai makhluk lain selain manusia. Contoh lain, sedekah laut di daerah Cilacap yang digunakan untuk menghormati Nyi Roro Kidul dengan memberikan sesaji.

C. Kelebihan dan Kekurangan Komunikasi Tradisional
            Keberadaan komunikasi tradisional yang media-medianya biasa dipertukarkan dengan seni tradisional atau seni pertunjukan, menjadikan bentuk komunikasi ini lebih menarik, sederhana serta mudah dimengerti oleh komunitas sasarannya. Hal itulah yang membuat media komunikasi tradisional melekat erat dengan kehidupan masyarakat dan berdampak pada perkembangan proses sosial masyarakat seperti memupuk rasa persaudaraan.
            Pengalaman-pengalaman yang ada menunjukkan bahwa media kesenian tradisional masih tetap disenangi oleh masyarakat. Namun demikian media-media kesenian tersebut tetap harus dikemas dan dikembangkan dengan baik dan menarik. Buktinya, saat ini media modern seperti televisi seolah berlomba menampilkan pola pertunjukan tradisional dalam berbagai tayangan. Hal ini menunjukkan kelebihan/keistimewaan media tradisional yang tidak dimiliki oleh media modern. Namun, saat ini media tradisional telah mengalami transformasi dengan media massa modern. Dengan kata lain, ia tidak lagi dimunculkan secra apa adanya, melainkan sudah masuk ke media televisi (transformasi) dengan segala penyesuaiannya. Misal acara seni tradisional wayang kulit yang disiarkan oleh oleh suatu televisi swasta.
            Sedangkan kekurangan dari komunikasi tradisional ialah ketidakmampuannya menjangkau ruang dan waktu serta audiens yang lebih luas. Karena keterbatasan itulah komunikasi ini sering dianggap tidak efektif dan kalah bersaing dengan media komunikasi modern masa kini yang lebih canggih.
Daftar Pustaka
M, Muslimin.2011.komunikasi Tradisional, “Pesan Kearifan Lokal Masyarakat Sulawesi Selatan Melalui Berbagai Media Warisan”.Yogyakarta:Buku Litera.


Tidak ada komentar: