Senin, 02 Juli 2012
SISTEM KOMUNIKASI INDONESIA
“MEDIA KOMUNIKASI TRADISIONAL DI
INDONESIA”
BAB I
PENDAHULUAN
Komunikasi merupakan hal yang sangat
penting bagi kelangsungan hidup manusia. Komunikasi diperlukan untuk menjalin
hubungan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini berkaitan dengan hakikat manusia
sebagai makhluk sosial, di mana manusia selalu memiliki hasrat untuk
berhubungan dengan orang lain. Sifat manusia untuk selalu ingin tahu dan
menyampaikan keinginannya merupakan wujud awal keterampilan manusia dalam
berkomunikasi.
Keterampilan ini dimulai dengan komunikasi secara otomatis
melalui lambang-lambang, kemudian disusul dengan kemampuan untuk mengartikan
setiap lambang-lambang tersebut dalam bentuk bahasa verbal.
Pada perkembangannya, komunikasi
manusia terlihat dalam berbagai bentuk kehidupan mereka di masa lalu. Mereka
mendirikan tempat tinggal di daerah aliran sungai dan tepi pantai untuk
memudahkan mereka dalam hal berkomunikasi dengan daerah luar menggunakan
perahu, rakit, atau sampan. Berbagai bentuk kehidupan manusia di masa lalu
sebenarnya merupakan salah satu bentuk komunikasi, yaitu komunikasi tradisional
yang merupakan akar dari berbagai bentuk komunikasi yang kita kenal seat ini.
Pada masa itu, sebagian besar masyarakat berkomunikasi menggunakan cara
tradisional dan melalui media yang belum canggih, komunikasi semacam itulah
yang disebut sebagai komunikasi tradisional.
Di berbagai daerah di Indonesia,
media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk dan sifat, sejalan
dengan variasi kebudayaan yang ada di daerah-daerah itu. Misalnya, tudung
sipulung (duduk bersama), ma’bulo sibatang (kumpul bersama dalam sebuah pondok
bambu) di Sulawesi Selatan dan selapanan (peringatan pada hari ke-35 kelahiran)
di Jawa Tengah, boleh dikemukan sebagai beberapa contoh media tradisional di
kedua daerah ini. Di samping itu, boleh juga ditunjukkan sebuah instrumen
tradisional seperti kentongan yang masih banyak digunakan di Jawa. Instrumen
ini dapat digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan yang mengandung makna
yang berbeda, seperti adanya kematian, kecelakaan, kebakaran, pencurian dan
sebagainya, kepada seluruh warga masyarakat desa, jika ia dibunyikan dengan
irama-irama tertentu.
Namun sejalan dengan perkembangan
zaman dan kemajuan teknologi, komunikasi tradisional mulai ditinggalkan oleh
masyarakat zaman modern. Oleh karena itu pemahaman mengenai komunikasi
tradisional sangat diperlukan, khususnya bagi mahasiswa jurusan Ilmu
Komunikasi, mengingat komunikasi tradisional merupakan salah satu unsur penting
dalam perkembangan komunikasi manusia. Komunikasi tradisional layak
dilestarikan sebagai bagian penting dalam sejarah pekembangan komunikasi
manusia. Keberadaannya dalam berbagai seni tradisional dan seni pertunjukan
hendaknya dilestarikan, diturunkan dari generasi ke generasi, sehingga tidak
hilang terbawa arus modernisasi. Pembahasan mengenai komunikasi tradisional
akan dibahas secara lebih rinci pada bab selanjutnya.
BAB II
PEMBAHASAN
Komunikasi tradisional adalah proses
penyampaian pesan dari satu pihak ke pihak lain, dengan menggunakan media
tradisional yang sudah lama digunakan di suatu tempat sebelum kebudayaannya
tersentuh oleh teknologi modern.
Pada
zaman dahulu, komunikasi tradisional dilakukan oleh masyarakat primitif dengan
cara yang sederhana. Seiring dengan perkembangan teknologi, komunikasi tradisional
mulai luntur dan jarang digunakan.
Komunikasi merupakan bagian dari
tradisi, peraturan, upacara keagamaan, hal-hal tabu, dan lain sebagainya, yang
berlaku pada masyarakat tertentu. Komunikasi memiliki perbedaan antara
kebudayaan yang satu dengan yang lain. Komunikasi tradisional dalam suatu
kelompok masyarakat dapat mempererat persahabatan. Komunikasi tradisional
mendorong manusia untuk bekerja, menjaga keharmonisan hidup, memberikan rasa
keterikatan, bersama-sama menantang kekuatan alam dan dipakai dalam mengambil
keputusan bersama. Dengan demikian, komunikasi tradisional merupakan salah satu
bentuk komunikasi yang sangat penting bagi kehidupan manusia.
Sifat-sifat umum media komunikasi
tradisional antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang ada,
menghibur, menggunakan bahasa lokal dan fleksibel. Media tradisional dikenal
juga sebagai media rakyat atau kesenian rakyat. Dalam hal ini Coseteng dan
Nemenzo mendefinisikan media tradisional sebagai bentuk-bentuk verbal, gerakan,
lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi rakyat, diterima oleh mereka, dan
diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh dan/atau untuk mereka dengan maksud
menghibur, memaklumkan, menjelaskan, mengajar, dan mendidik.
Sejalan dengan definisi inilah,
media rakyat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian rakyat, musik
instrumental rakyat, dan drama rakyat, yaitu segala jenis kesenian rakyat yang
berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan yang kemudian diteruskan dari
generasi ke generasi.
A. Bentuk-Bentuk Komunikasi Tradisional
a. Lambang Isyarat
Pada awalnya, orang
menggunakan anggota badannya untuk berkomunikasi "bahasa badan" dan
bahasa non-verbal. Contohnya dengan gerak muka, tangan, mimik. Ini merupakan
bentuk komunikasi yang sangat sederhana.
b. Simbol
Simbol-simbol dalam
komunikasi tradisional dapat dilihat pada pemukulan gong di Romawi dan
pembakaran api yang mengepulkan asap di Ci na,
yang dilakukan oleh para serdadu di medan perang.
c. Gerakan
Gerakan-gerakan
dalam semaphore yang dilakukan untuk menyampaikan sebuah pesan/informasi maupun
gerakan-gerakan dalam tarian yang bertujuan menyampaikan suatu kisah, merupakan
bentuk-bentuk komunikasi tradisional yang menggunakan gerakan.
d. Bunyi-bunyian
Bentuk
komunikasi tradisional dalam hal ini berupa tanda bahaya yang disampaikan
dengan sirine atau kentongan.
B. Media Komunikasi Tradisional
a.
Kentongan
Kentongan
sebagai media komunikasi tradisional masih memegang peranan yang cukup penting
terutama di daerah-daerah. Walaupun di masa sekarang ini telah terjadi
perkembangan teknologi yang cukup pesat, namun kentongan masih memiliki banyak
kegunaan, misalnya di bidang keamanan (sebagai sarana ronda malam) dan bidang
informasi (sebagai petunjuk waktu yang dipukul setiap jam dan sarana menginformasikan
berbagai peristiwa yang terjadi, seperti kebakaran, bencana alam dan
sebagainya).
b. Kulkul
Kulkul
merupakan alat komunikasi tradisional yang terdapat di Bali. Kulkul biasanya dipergunakan sebagai tanda panggilan
kepada warga untuk berkumpul. Kulkul adalah alat bunyi yang pada umumnya
terbuat dari kayu dan benda peninggalan para leluhur. Selain di Bali, kulkul
yang lazimnya disebut dengan kentongan hampir terdapat di seluruh pelosok
kepulauan Indonesia. Kulkul dijadikan alat komunikasi tradisional oleh
masyarakat Indonesia. Pada masa pemerintahan Belanda di Indonesia, kulkul lebih
populer dengan nama "Tongtong". Sedangkan pada zaman
Jawa-Hindu kulkul disebut "Slit-drum" yaitu berupa tabuhan
dengan lubang memanjang yang terbuat dari bahan perunggu.
Para pembuat kulkul harus melakukan tahap-tahap
upacara guna mencari kekuatan magis yang akan ditanamkan pada alat tersebut.
Apabila tahapan upacara sudah dilaksanakan maka kulkul telah memiliki kekuatan
magis dan dianggap sebagai benda suci serta keramat.
c. Bedug
Bedug
adalah alat tabuh seperti gendang yang digunakan sejak ribuan tahun lalu yang
memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional dalam kegiatan
ritualkeagamaan. Di Indonesia, sebuah bedug biasa dibunyikan untuk
pemberitahuan mengenai waktu shalat bagi umat Islam.
d. Burung Merpati
Burung
merpati merupakan media komunikasi tradisional setelah manusia mengenal tulisan
serta kebudayaan berkirim surat, sebelum munculnya jasa pos. Surat yang ditulis
tersebut akan dipasang pada kaki burung merpati yang telah dilatih sebelumnya
oleh si pengirim, untuk disampaikan kepada orang yang dituju. Pengiriman surat
dengan jasa burung merpati banyak ditemukan pada masa kerajaan di Indonesia.
e. Api dan asap
Api
juga digunakan dalam komunikasi tradisional untuk menyampaikan peringatan
terhadap adanya bahaya, bencana alam, ataupun untuk mengumpulkan masyarakat
pada suatu tempat yang telah ditentukan untuk keperluan tertentu.
f. Cerita
Rakyat (Dongeng)
Dongeng
merupakan salah satu media tradisional yang pernah populer di Indonesia. Pada masa
silam, kesempatan untuk mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena
merupakan bagian dari kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng
merupakan cara berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk
menanamkan nilai-nilai sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
William
R. Bascom (dalam Nurudin,2005:115) mengemukakan fungsi-fungsi dari folklore
sebagai media tradisional adalah sebagai berikut:
1. Sebagai sistem proyeksi (
projective system )
2. Sebagai pengesahan atau penguat
adat.
3. Sebagai alat pendidikan ( pedagogical
device )
4. Sebagai alat paksaan dan
pengendalian sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi oleh anggota
kolektifnya.
g. Seni
Drama dan Tari
Sendratari
yang dikembangkan di Bali antara lain adalah Arja. Pertunjukan ini biasanya
dimulai pada tengah malam oleh pelaku-pelaku yang memainkannya dengan jenaka.
Cerita-cerita Arja yang pada dasarnya mengungkapkan tema romantis itu juga
menyinggung permasalahan hangat sehari-hari, yang secara komunikatif dapat
menggali kesadaran masyarakat mengenai berbagai hal.
Pertunjukan-pertunjukan
semacam ini biasanya berakar dari kebudayaan masyarakat setempat dan bersifat
komunikatif sehingga makna di dalamnya sangat mudah dipahami. Pertunjukan ini
biasanya diiringi oleh musik daerah setempat.
h. Upacara Rakyat
Upacara
Rakyat seringkali digunakan untuk memperkuat adanya cerita rakyat. Salah satu
contohnya upacara Labuhan (sesaji kepada makhluk halus) yang memperkuat
cerita rakyat mengenai makhluk lain selain manusia. Contoh lain, sedekah laut
di daerah Cilacap yang digunakan untuk menghormati Nyi Roro Kidul dengan
memberikan sesaji.
C. Kelebihan dan Kekurangan Komunikasi Tradisional
Keberadaan komunikasi tradisional
yang media-medianya biasa dipertukarkan dengan seni tradisional atau seni
pertunjukan, menjadikan bentuk komunikasi ini lebih menarik, sederhana serta
mudah dimengerti oleh komunitas sasarannya. Hal itulah yang membuat media
komunikasi tradisional melekat erat dengan kehidupan masyarakat dan berdampak
pada perkembangan proses sosial masyarakat seperti memupuk rasa persaudaraan.
Pengalaman-pengalaman
yang ada menunjukkan bahwa media kesenian tradisional masih tetap disenangi
oleh masyarakat. Namun demikian media-media kesenian tersebut tetap harus
dikemas dan dikembangkan dengan baik dan menarik. Buktinya, saat ini media
modern seperti televisi seolah berlomba menampilkan pola pertunjukan
tradisional dalam berbagai tayangan. Hal ini menunjukkan kelebihan/keistimewaan
media tradisional yang tidak dimiliki oleh media modern. Namun, saat ini
media tradisional telah mengalami transformasi dengan media massa modern.
Dengan kata lain, ia tidak lagi dimunculkan secra apa adanya, melainkan sudah
masuk ke media televisi (transformasi) dengan segala penyesuaiannya. Misal
acara seni tradisional wayang kulit yang disiarkan oleh oleh suatu televisi
swasta.
Sedangkan kekurangan dari komunikasi
tradisional ialah ketidakmampuannya menjangkau ruang dan waktu serta audiens
yang lebih luas. Karena keterbatasan itulah komunikasi ini sering dianggap
tidak efektif dan kalah bersaing dengan media komunikasi modern masa kini yang
lebih canggih.
Daftar Pustaka
M, Muslimin.2011.komunikasi
Tradisional, “Pesan Kearifan Lokal
Masyarakat Sulawesi Selatan Melalui Berbagai Media Warisan”.Yogyakarta:Buku
Litera.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar